JAKARTA, KalderaNews.com – Peneliti Pusat Sains Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Dr. Rhorom Priyatikanto, M.Si dalam kelas mitigasi bencana baru-baru ini menjelaskan benda keantariksaan yang berpotensi untuk jatuh ke dalam atmosfer bumi dapat diklasifikasikan kedalam 2 kategori umum, yakni buatan dan alami.
Berdasarkan ukurannya, benda antariksa alami dapat diidentifikasi sebagai asteroid/komet (besar), bolide/fireball (menengah) dan meteor (kecil).
Sedangkan untuk benda antariksa yang berpotensi jatuh ke dalam atmosfer bumi yang bersifat buatan, dapat diidentifikasi sebagai sampah antariksa, diantaranya adalah bekas roket, satelit, atau serpihannya yang dapat membahayakan satelit aktif atau jatuh ke permukaan Bumi.
BACA JUGA:
- Paling Lambat 2040 Indonesia Sudah Miliki Wahana Antariksa di Papua
- Ilmu Astronomi, Jurusan Langka dengan 5 Prospek Kerja Menjanjikan
- Patung Kosmonot Uni Soviet Berdiri Tegak di Taman Mataram Jakarta, Sampai Sebegitunya, Siapakah Yuri Gagarin itu?
Rhorom melanjutkan, bahwa sesuai dengan Annual Space Environment Report 2019 yang diterbitkan oleh European Space Agency (ESA), 5.560 roket diluncurkan, 9.600 satelit ditempatkan di orbitnya, diperkirakan 5.500 benda antariksa masih berada di orbitnya, namun hanya sekitar 2.300 yang masih berfungsi, dan total objek yang dipantau sebanyak 22.300, dengan massa total mencapai 8.800 ton.
Data tersebut sejalan dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan fasilitas yang didapat melalui aktivitas keantariksaan, seperti: internet, siaran televisi, siaran radio, prakiraan cuaca, Global Positioning System (GPS), dll, yang menyebabkan bertambahnya kepadatan populasi luar angkasa dan pada akhirnya akan meningkatkan kuantitas sampah antariksa.
Adapun risiko korban jiwa akibat benda antariksa jatuh adalah 1 hingga 3 jiwa per dekade, risiko korban jiwa yang relatif kecil didukung dengan fakta bahwa selama 60 tahun terakhir belum ada korban jiwa yang timbul akibat jatuhnya benda antariksa, namun risiko yang ada tentu akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya aktivitas antariksa yang juga meningkat, dan perlu diingat juga, sebuah tabung pecahan roket Falcon 9 dari SpaceX pernah menimpa kandang ternak dan menewaskan beberapa ekor ternak pada hari Senin Tanggal 26 September 2016 di Sumenep, Madura.
Donald Kessler (1978), seorang peneliti National Aeronautics and Space Administration (NASA) pernah mengemukakan sebuah skenario ketika kepadatan objek di orbit bumi rendah/Low Earth Orbit (LEO) begitu tinggi hingga tabrakan antar-objek bisa memunculkan tabrakan berantai dan menghasilkan serpihan angkasa yang meningkatkan kemungkinan adanya tabrakan lain, hal ini dikenal sebagai Kessler Syndrome.
Seiring dengan meningkatnya risiko dan aktivitas antariksa, selama lebih dari 1 dekade LAPAN mengoperasikan sistem informasi pemantauan benda jatuh antariksa buatan, dengan tambahan data dari katalog North American Aerospace Defense Command (NORAD) yang diintegrasikan sebagai data masukan. Informasi ini diperbaharui secara real-time dan dapat diakses melalui http://orbit.sains.lapan.go.id oleh masyarakat luas. Sistem ini juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi seandainya ada benda antariksa buatan yang dilaporkan jatuh di suatu tempat di Indonesia.
* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu
Leave a Reply