Begini Strategi Badan Geologi Pantau Gunungapi Anak Krakatau

Salah satu alat pemantau kegempaan di lereng Gunungapi Anak Krakatau sebelum aktivitasnya yang masif pada 2018 lalu.(KalderaNews/Arli Cia)

JAKARTA, KalderaNews.com – Gunungapi Anak Krakatau beberapa bulan terakhir ini menampakkan aktivitasnya yang cukup masif. Kerucut yang dibangun sejak 1929 pun luluh dan terjadi perubahan bentuk tubuh yang sangat signifikan. Letusan yang disusul longsoran pada 22 dan 26 Desember 2018 adalah penyebab utamanya.

Geliat gunung yang tahun lalu menimbulkan tsunami itu rupanya juga menyebabkan kerusakan pada beberapa alat pemantau aktivitasnya. Dari enam stasiun seismik yang terpasang di sekitar Gunungapi Anak Krakatau, empat di antaranya mengalami kerusakan. Empat stasiun tersebut adalah KRA 1, KRA 2, KRA 3, dan LAVA. Selain disebabkan oleh lontaran material letusan, stasiun-stasiun tersebut juga rusak karena vandalisme.

Demikian dipaparkan oleh Hendra Gunawan, tim peneliti dari Badan Geologi pada Senin, 21 Januari 2018 di Auditorium Sarulla, Kementrian ESDM. Dalam seminar “Strategi Mitigasi Gunungapi Anak Krakatau di Kawasan Selat Sunda” itu, ia berpendapat bahwa Gunungapi Anak Krakatau sangat dinamis. Selain itu, gunung tersebut juga menyimpan bahaya yang besar. “Oleh karenanya pamantauan perlu dilakukan secara secara kontinyu (real time),” tandasnya.

Strategi pemantauan yang selanjutnya dilakukan oleh Badan Geologi adalah melengkapi alat pengamat aktivitas Gunungapi Anak Krakatau. Alat tersebut antara lain berupa peralatan kegempaan, deformasi dan kamera CCTV. Peralatan tersebut akan dipasang di sekitar pusat erupsi, yaitu di Pulau Panjang, Rakata, dan Sertung. Jika aktivitasnya sudah normal kembali, di tubuh gunung juga akan dipasang alat pemantau kestabilan lereng.

Selain itu, tim juga melakukan pengembangan sistem pemantauan Gunungapi Anak Krakatau yang siap diterapkan. Sistem tersebut akan menggunakan internet telemetri dan sms telemetri. Opsi lain sebagai pengganti router/internet, juga dibuat sistem pemantauan dengan remote area melalui radio, modul satelit, dan kawinan router+radio. Sistem ini dipakai agar informasi tingkah Gunungapi Anak Kralatau dapat sampai ke masyarakat melalui mobile apps atau web.

Pengembangan sistem pemantauan Gunungapi Anak Krakatau yang tengah siap diterapkan. (KalderaNews/Kementrian ESDM)

“Semoga pemantauan aktivitas Gunungapi Anak Krakatau akan semakin memperkuat sistem mitigasi bencananya,” tutur Hendra. (AC)

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*